Dalam kajian ilmu seni pertunjukan terapan, teater interaktif dipandang sebagai medium reflektif yang mampu membantu masyarakat memahami realitas sosial sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi. Menurut Schechner dan White, teater interaktif dapat berperan sebagai medium reflektif sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat. Konsep Theatre of the Oppressed dari Augusto Boal menekankan bahwa partisipasi penonton dalam alur cerita dapat menjadi bentuk dialog sosial, bukan sekadar tontonan pasif. Menurut Defito dan rekan, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat berbasis teater interaktif di Bandung bahkan mencatat bahwa pendekatan ini efektif membangun kesadaran sosial peserta serta memberi wawasan baru dalam memaknai realitas kehidupan. Prinsip yang sama tampak pada pendekatan Kabaret Ungu: alih-alih menjelaskan gangguan psikologis secara teoritis, isu tersebut dihidupkan lewat karakter, dialog, dan konflik manusiawi yang dapat langsung dirasakan penonton.


