Dalam perspektif spiritual, manusia hadir di muka bumi bukan semata-mata untuk menguasai, melainkan menjalankan amanah sebagai khalifah.
Karena itu, menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, lurah, atau ketua partai politik tentu boleh. Bahkan sangat baik jika jabatan itu digunakan untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Pertanyaannya sederhana: untuk apa berkuasa?
Apakah sekadar ingin memiliki jabatan, kekayaan, kehormatan, dan pengakuan? Ataukah benar-benar ingin melayani dan berbagi?
Kita boleh berkuasa, tetapi kekuasaan itu seharusnya digunakan untuk melayani. Kita boleh kaya, tetapi kekayaan akan jauh lebih bermakna ketika digunakan untuk berbagi.
Kekuasaan bukan tujuan. Ia hanyalah alat. Jabatan bukan kehormatan tertinggi. Ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Demikian pula politik. Berpolitik dan menduduki jabatan politik bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk memperoleh ruang, kewenangan, dan kesempatan yang lebih luas dalam melayani masyarakat.



