Di mata politisi kardus, kebaikan orang lain justru dianggap ancaman. Apa pun yang dilakukan seseorang yang memiliki tujuan dan nilai akan selalu dicari celah kesalahannya.
Jika perlu, masa lalu dibongkar, identitas dipersoalkan, ijazah SD pun dikorek-korek untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata menjatuhkan.
Ketika fakta tidak cukup untuk menyerang, narasi kebencian dan fitnah diproduksi. Agama dijadikan bungkus, istilah Tuhan dipinjam, sementara kepentingan kekuasaan disembunyikan di balik retorika moral.
Mereka tidak sedang memperjuangkan kebenaran. Mereka sedang memperjuangkan kepentingannya sendiri dengan memakai pakaian kebenaran.
Sayangnya, model politik seperti ini masih begitu dominan di panggung perpolitikan kita hari ini.
Energi mereka habis untuk mencari celah, mengadu domba, menyebarkan fitnah, membangun kebencian, dan menjatuhkan siapa pun yang dianggap menghalangi ambisi. Logika dipelintir, nalar dipersempit, dan kebodohan diproduksi seolah-olah menjadi kebenaran.



