Figur seperti ini semakin langka di tengah hiruk-pikuk politik yang dipenuhi orang-orang yang haus kekuasaan, kekayaan, dan pengakuan. Kehadirannya selalu dirindukan. Rakyat merasa memiliki wakil yang benar-benar memahami kegelisahan dan harapan mereka.
Namun, ironisnya, orang-orang semacam ini justru sering menjadi sasaran kebencian, serangan, dan caci maki.
Mengapa?
Karena masih banyak orang yang berpolitik sebatas memahami kulit, bungkus, dan kemasan. Mereka tidak memahami substansi, nilai, apalagi tujuan luhur dari kekuasaan. Politik bagi mereka tidak lebih dari arena untuk mencari makan, mengumpulkan kekayaan, membangun pengaruh, dan menjatuhkan lawan.
Inilah yang saya sebut politisi kardus.
Politisi kardus hanya sibuk dengan cangkang, tetapi kosong di dalamnya. Penampilan boleh meyakinkan, retorika boleh terdengar hebat, bahkan istilah agama dan nama Tuhan bisa dibawa ke mana-mana. Namun, orientasi dan perilakunya jauh dari nilai-nilai yang seharusnya diperjuangkan.



