“Kami pun sebagai apoteker yang wajib atau punya kemampuan untuk melakukan seleksi, mana informasi yang benar, mana informasi yang tidak benar. Dengan demikian, kemampuan seorang apoteker dalam memberikan informasi yang benar itu masih dibutuhkan,” jelasnya.
Selain perkembangan teknologi, aspek kehalalan obat menjadi salah satu tantangan yang terus menjadi perhatian FFDS Unisba. Suwendar menjelaskan, masih terdapat bahan-bahan tertentu yang digunakan dalam produk farmasi yang perlu dikaji dari perspektif kehalalan, termasuk bahan hewani pada kapsul, etanol, serta bahan yang digunakan dalam pembuatan vaksin.
Dalam menghadapi persoalan tersebut, FFDS Unisba membekali calon apoteker dengan pemahaman keislaman agar mampu mempertimbangkan aspek kehalalan sekaligus kebutuhan pasien.
Tak Hanya Knowledge dan Skill Tapi Juga Attitude
Penguatan kompetensi tersebut sejalan dengan pesan Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., kepada para apoteker muda agar tidak berhenti belajar dan mampu mengintegrasikan ilmu kefarmasian dengan nilai-nilai Islam.


