Oleh Hasna Atsriya Amna & Najmi Muflih Siregar (Mahasiswa Fakultas Psikologi Unisba/Kabaret Ungu Fakultas Psikologi Unisba)
PERGELARAN “Mereka Adalah Aku” yang diangkat UPM-F Kabaret Ungu Fakultas Psikologi Unisba bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga contoh nyata bagaimana seni peran dan ilmu psikologi bekerja beriringan. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa proses berteater—baik dari sisi aktor yang memerankan karakter maupun penonton yang menyaksikannya—melibatkan mekanisme psikologis yang cukup dalam.
Titik temu pertama antara seni peran dan psikologi empati, yakni kemampuan memahami perasaan orang lain melalui perspektif orang tersebut. Menurut Baron, Byrne, dan Branscombe, kemampuan ini menjadi salah satu unsur penting dalam interaksi sosial manusia. Dalam pelatihan keaktoran, aktor dilatih menyelami perasaan karakter sedalam mungkin agar penonton dapat memercayai emosi yang ditampilkan. Menurut Goldstein, proses ini menjadi inti dari terbentuknya empati melalui seni peran. Prinsip “pendidikan perasaan” ini bahkan menjadi bagian dari metode akting Stanislavski yang menjadi rujukan banyak sekolah teater di dunia, termasuk melalui teknik ingatan emosi dan pendalaman karakter. Dalam konteks “Mereka Adalah Aku”, setiap aktor dituntut memahami secara utuh gambaran klinis dari isu psikologis yang diperankan—mulai dari pola pikir, cara bicara, hingga bahasa tubuh—agar representasi yang ditampilkan tidak jatuh pada stereotip, melainkan mendekati kenyataan.


