Namun dalam praktiknya, digitalisasi sering kali lebih fokus pada pembangunan sistem dibandingkan pembangunan manusia. Organisasi sibuk mengadopsi aplikasi tetapi kurang memberi perhatian pada kesiapan SDM yang mengoperasikannya.
Di Ciamis, dinamika ini mulai terasa. Tidak semua ASN memiliki literasi digital yang setara. Sebagian mampu beradaptasi secara cepat tetapi sebagian lain menghadapi kesulitan. Ada yang merasa tertinggal, ada pula yang sekadar “mengikuti sistem” tanpa benar-benar memahami esensinya.
Di sinilah muncul paradoks: sistem menjadi semakin modern tetapi manusia di dalamnya tidak selalu merasa lebih berdaya.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa transformasi digital bukan semata persoalan teknologi. Ia adalah persoalan manusia—tentang bagaimana individu beradaptasi, belajar, dan menemukan makna dalam perubahan.
Selama ini, pengelolaan ASN masih didominasi pendekatan administratif. Penilaian kinerja sering kali bersifat formalitas, pelatihan dilakukan sekadar memenuhi kewajiban, dan pengembangan kompetensi belum sepenuhnya berbasis kebutuhan masa depan.