Padahal, kebijakan ASN telah menekankan pentingnya merit system, kompetensi, dan profesionalisme. Artinya, problemnya bukan pada regulasi tetapi pada bagaimana regulasi itu diterjemahkan dalam praktik organisasi.
Dalam konteks ini, pendekatan HR (human resources) tradisional menjadi tidak memadai. Ia terlalu fokus pada prosedur tetapi kurang responsif terhadap perubahan. Ia mengelola data pegawai tetapi belum tentu mampu mengelola potensi manusia.
Di tengah percepatan digitalisasi, pendekatan seperti ini berisiko memperlebar jarak antara sistem dan manusia.
HR Champion
Gagasan HR Champion yang diperkenalkan Dave Ulrich menawarkan jalan keluar. HR tidak lagi cukup menjadi administrator, tetapi harus menjadi mitra strategis, agen perubahan, sekaligus penjaga nilai organisasi.
Dalam konteks SPBE, peran ini menjadi semakin penting. HR harus memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya menghasilkan efisiensi tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman kerja ASN.