Begitu pula dengan rasa kecewa, ketakutan, fanatisme, dan prasangka. Semuanya bisa diperbesar, dipelihara, bahkan diarahkan untuk kepentingan tertentu.
Kekuatan algoritma sangat dahsyat. Ia bisa membalikkan persepsi, mengaburkan batas antara fakta dan kebohongan, bahkan membuat sesuatu yang salah tampak benar dan sesuatu yang benar terlihat salah.
Sebagai sebuah mesin, algoritma bekerja berdasarkan logika kausalitas. Ia tidak memiliki rasa, empati, apalagi nurani. Ia hanya mengolah data, membaca kecenderungan, lalu memperkuat respons yang dianggap paling efektif.
Karena itu, manusia yang paling rentan menjadi korbannya adalah mereka yang kehilangan kemampuan berpikir kritis dan membiarkan hati nuraninya tertutup oleh ego serta kepentingan.
Termasuk kelompok agama yang hanya mengejar surga dan pahala, kelompok politik yang terobsesi dengan kekuasaan, intelektual yang haus panggung, penguasa yang takut kehilangan jabatan, guru besar yang membutuhkan validasi, hingga kelompok muda yang ingin eksis dan memperoleh pengakuan.



