Mereka bisa menjadi sasaran sekaligus alat bagi permainan algoritma.
Kehancuran sejumlah negara di Timur Tengah dan Amerika Latin sering dijadikan contoh bagaimana kekuatsn algoritma mampu menciptakan perang informasi, propaganda digital, konflik sosial, dan intervensi politik yang dapat meruntuhkan sebuah negara.
Indonesia tentu memiliki situasi dan karakter yang berbeda. Namun, kita patut waspada.
Jangan sampai Indonesia mengalami proses yang bisa disebut sebagai upaya di-Timur Tengah-kan atau di-Venezuela-kan.
Dalam skenario seperti itu, orang-orang yang kehilangan kejernihan berpikir dan nurani dapat berperan sebagai pion, bahkan agen bagi kepentingan yang lebih besar, tanpa menyadari siapa yang sesungguhnya sedang memanfaatkan mereka.
Lalu, mengapa Jokowi dan Gibran terus menjadi sasaran?
Dalam perspektif pertarungan politik, Gibran bisa dipandang sebagai penghalang bagi kelompok yang ingin mengubah konfigurasi kekuasaan di dalam Istana. Sementara Jokowi masih memiliki pengaruh politik dan menjadi salah satu fondasi spritual politik yang penting bagi konfigurasi kekuasaan Prabowo.



