Dalam politik semacam ini, kebenaran bukan lagi sesuatu yang dicari, melainkan sesuatu yang dipilih sesuai kebutuhan.
Yang dicari bukan fakta, melainkan pembenaran. Kebenaran hanya diakui jika datang dari kelompok sendiri. Sebaliknya, fakta yang berasal dari pihak lawan akan ditolak, bahkan ketika kenyataan berbicara dengan sangat jelas.
Inilah wajah buruk politik ketika akal sehat dikalahkan oleh syahwat kekuasaan. Dan gejala itu sedang kita saksikan di negeri ini. Sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan akademisi, pengacara, dan profesor, terlibat dalam polemik mengenai keaslian ijazah Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka. Tuduhan, bantahan, dan perdebatan terus bergulir di ruang publik, sering kali disertai serangan pribadi yang jauh dari tradisi berpikir ilmiah.
Di sisi lain, sejumlah kelompok politik yang sebelumnya mendukung Gibran kini mendorong pemakzulan Wakil Presiden tersebut.



