Ironisnya, semua ini terjadi di negeri yang kerap membanggakan religiositas, kesantunan budaya, dan kehidupan demokratisnya.
Agama seolah hanya menjadi simbol, tameng, bahkan kendaraan untuk mencapai tujuan politik. Sementara demokrasi direduksi menjadi kebebasan berbicara tanpa kewajiban menjaga nalar, etika, dan tanggung jawab atas ucapan sendiri.
Padahal, kebebasan tanpa kejujuran mudah berubah menjadi manipulasi. Kritik tanpa akal sehat merosot menjadi fitnah. Dan kekuasaan yang dikejar tanpa moral hanya akan melahirkan pengkhianatan terhadap kepentingan rakyat.
Saya tidak keberatan jika Gibran dimakzulkan, sepanjang terdapat dasar konstitusional yang sah, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, dan proses yang sesuai dengan ketentuan hukum.
Tetapi jika pemakzulan hanya menjadi instrumen untuk melampiaskan dendam, menyingkirkan lawan, atau merebut keuntungan politik, maka yang sedang dipertontonkan bukanlah perjuangan demokrasi.



