Sebelum teknologi ini hadir melalui kolaborasi Unisba dengan pemerintah daerah dan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), ritme kerja di TPS terasa jauh lebih padat. Sampah diangkut truk hampir setiap hari, tanpa jeda. Kini, situasinya mulai berubah.
“Dulu penarikan sampah bisa setiap hari. Sekarang cukup empat hari saja, Rabu, Jumat, Minggu sudah tidak ada pengambilan,” kata Arya.
Perubahan itu bukan sekadar angka. Volume sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) perlahan berkurang. Sampah yang telah dipilah dan diolah melalui reaktor plasma dingin tak lagi menumpuk. Ia berubah menjadi abu, bahkan bisa diolah menjadi liquid smoke yang bermanfaat sebagai sterilisasi, penghilang bau, hingga pupuk.
Namun, di balik inovasi itu, pekerjaan tetap bukan tanpa tantangan. Arya harus berhadapan langsung dengan suhu tinggi dari mesin. “Tantangan terbesar ya panasnya. Kadang bisa nyebrot ke tubuh, jadi harus ekstra hati-hati,” ujarnya.