Bagi Arya dan Dede, perubahan ini bukan hanya soal teknologi tapi juga soal kebiasaan. Keduanya sepakat, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
“Petugas di sini sudah keliling, sudah berusaha. Tapi kalau dari rumah sampahnya masih campur, jadi lebih berat. Harapannya masyarakat bisa mulai pilah dari rumah,” kata Arya.
Senada dengan itu, Dede menutup dengan harapan sederhana namun penting: “Mulai dari diri sendiri saja. Kalau sampah sudah dipilah dari rumah, semuanya jadi lebih mudah dikelola.”
Di tengah panas reaktor plasma dingin, ada semangat yang terus menyala. Perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari selembar plastik yang dipisahkan di rumah.
Ada pula rasa syukur yang tak terucap panjang. “Perasaan saya senang, dapat hampers, dapat rezeki. Alhamdulillah Unisba memberikan perhatian kepada pengelola TPS reaktor plasma dingin di sini,” tutup Arya.