Namun, persoalan klasik masih membayangi. Kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya memilah sampah dari rumah. Sampah basah yang tercampur membuat proses pembakaran lebih sulit dan memengaruhi suhu mesin.
“Kalau sampah basah masuk, suhu langsung drop. Jadi lama kebakarnya,” jelasnya.
Di balik itu semua, Dede tetap melihat sisi positif dari perubahan yang terjadi. Ia merasa pekerjaannya kini lebih teratur dan disiplin. “Alhamdulillah sekarang jadi lebih disiplin. Jam kerja jelas, jadi tidak sembarangan orang datang ke TPS,” katanya.
Meski begitu, ia juga menyuarakan harapan terkait keselamatan kerja. “Saya ingin ada dukungan penuh, terutama soal keselamatan. Walaupun tidak ada asap, abu tetap terhisap, kadang jadi sesak,” ungkapnya dengan jujur.
Di TPS Berbudaya Arcamanik, teknologi dan kerja manusia berjalan berdampingan. Ada mesin canggih yang mampu membakar sampah tanpa asap tapi tetap ada tangan-tangan yang memilah, mengangkut, dan memastikan semuanya berjalan.