Meski begitu, ia tetap melihat harapan besar dari teknologi ini, terutama untuk kota yang sedang menghadapi persoalan sampah. “Harapannya ke depan bisa lebih maksimal, mungkin sampahnya dikeringkan atau dicacah dulu, jadi pembakarannya lebih efisien,” pungkasnya.
Memilah Sampah dari Rumah
Di sisi lain TPS, Dede R Zuhaeri menjalankan peran yang tak kalah penting: memilah sampah sebelum masuk ke proses pembakaran. Sudah belasan tahun ia bergelut dengan sampah tapi kehadiran reaktor plasma dingin membawa dinamika baru dalam kesehariannya.
“Saya mulai di sini akhir Desember, tugasnya memilah sampah siap bakar. Tapi kendalanya masih banyak, terutama sampah organik yang belum dipisah dari rumah,” katanya.
Bagi Dede, perubahan paling terasa bukan hanya pada volume sampah tetapi juga pada ritme kerja. Jika dulu truk harus beroperasi setiap hari, kini ada waktu jeda yang memberi ruang bernapas. “Sekarang jadi ada waktu libur untuk sopir juga. Sampah dibakar setiap hari, jadi tidak terlalu numpuk,” ujarnya.