Salah satu kritik utama terhadap ESG adalah lemahnya konsistensi dalam implementasi. Tidak adanya standar global yang seragam membuat penilaian ESG menjadi subjektif dan rentan terhadap manipulasi. Fenomena greenwashing menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan label ESG untuk kepentingan reputasi tanpa melakukan perubahan substantif. Dalam banyak kasus, ESG justru menjadi alat pemasaran, bukan instrumen transformasi.
Selain itu, ESG juga sering dianggap terlalu teknokratis. Pendekatan ini lebih menekankan pada indikator dan skor, tanpa menyentuh dimensi moral yang lebih dalam. Akibatnya, ESG berisiko kehilangan esensi etika yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam investasi berkelanjutan. Dalam konteks ini, muncul kebutuhan pendekatan yang tidak hanya berbasis pada standar tetapi juga pada nilai.
Di sinilah perspektif Islam menawarkan kontribusi yang signifikan. Islam sebagai sistem nilai yang komprehensif telah lama mengatur aktivitas ekonomi dengan pendekatan yang tidak hanya rasional tetapi juga moral dan spiritual. Dalam Islam, investasi bukan sekadar alat untuk menghasilkan keuntungan, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.


