Oleh Dr. Muhammad E Fuady (Dosen Fikom Unisba)
DI TENGAH dunia yang semakin riuh, cepat, dan bising, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi satu persoalan mendasar, yaitu krisis makna. Informasi melimpah ruah, pengetahuan tersedia di mana-mana, perdebatan tak pernah berhenti tetapi ketenangan justru terasa semakin jauh. Telusuri saja media sosial, isinya tak jauh dari polemik, kontroversi, dan perdebatan di antara netizen. Tanpa mencermati persoalan secara utuh, komentar dilontarkan secara membabi buta, hantam kromo, menghakimi berbagai isu dan personal yang muncul di beranda media sosial.
Kita mengetahui banyak hal tetapi tidak menemukan kedalaman. Kita bisa menjelaskan banyak perkara tetapi tidak selalu mampu menghadirkan ketenteraman di dalam hati. Dalam konteks inilah, tasawuf, khususnya sebagaimana dipahami Al-Ghazali, kembali terasa relevan.