Padahal, tantangan bangsa hari ini tidak kalah serius. Kemiskinan belum selesai, kesenjangan pendidikan masih nyata, literasi perlu diperkuat, korupsi terus menjadi persoalan, dan masyarakat menghadapi banjir informasi yang tidak semuanya benar. Anak-anak membutuhkan akses belajar yang lebih baik. Keluarga membutuhkan penguatan ekonomi. Generasi muda membutuhkan keterampilan dan arah hidup. Di ruang digital, masyarakat membutuhkan keteladanan, pengetahuan, dan komunikasi yang mencerahkan. Di sinilah Hari Santri seharusnya menemukan relevansi barunya.
Perjuangan santri hari ini tidak harus diwujudkan dalam bentuk perlawanan bersenjata seperti pada masa revolusi. Konteks sejarahnya berbeda. Namun, semangat tanggung jab sosialnya tetap dapat diteruskan. Jika dahulu perjuangan diarahkan untuk mempertahankan kemerdekaan, sekarang perjuangan dapat diwujudkan melalui penguatan ilmu, pemberantasan kebodohan, pembangunan ekonomi yang adil, pemeliharaan lingkungan, dan pembentukan masyarakat yang berakhlak.



