Kita juga perlu berani mengakui bahwa tidak semua program berhasil. Gerakan yang dewasa bukan gerakan yang hanya memamerkan keberhasilan, melainkan yang bersedia mengevaluasi kegagalan dan belajar darinya.
Pada akhirnya, membangun peradaban Islam bukan sekadar memperbanyak simbol keislaman atau memperbesar kemeriahan perayaan. Ia adalah ikhtiar panjang untuk menghadirkan ilmu, keadilan, akhlak, kemajuan, dan kemaslahatan dalam kehidupan manusia. Islam yang rahmatan lil-‘alamin semestinya dapat dirasakan manfaatnya, termasuk oleh mereka yang berbeda latar belakang.
Maka, Hari Santri seharusnya menjadi lebih dari sekadar hari untuk mengenang jasa ulama dan santri. Ia perlu menjadi momentum untuk menguji sejauh mana kita melanjutkan nilai perjuangan mereka. Sebab, kebesaran sejarah tidak otomatis menjamin kebesaran masa depan. Kita boleh bangga pada Resolusi Jihad 1945. Kita patut menghormati para ulama dan santri yang berjuang bagi republik. Tetapi kebanggaan itu baru menemukan maknanya ketika generasi hari ini mampu menjawab tantangan zamannya.



