Di kalangan intelektual Barat, tasawuf sering disebut sebagai mistisisme. Pada awalnya, istilah mistisisme dipakai untuk menyebut pengalaman religius yang menekankan pengetahuan tentang Tuhan melalui pengalaman batin, wahyu, atau pengalaman spiritual yang melampaui indera dan rasio. Namun, jika mistisisme dianggap hanya lahir dari tradisi Barat, yakni Kristen, tentu itu penyederhanaan yang tidak tepat. Hampir semua tradisi religius mengenal pengalaman batin, pengalaman kedekatan dengan Yang Mutlak, serta kesadaran akan hubungan cinta antara manusia dan Tuhannya. Menurut Annemarie Schimmel, pengalaman seperti itu disebut Tasawuf.
Tasawuf bukan sekadar sikap menjauh dari dunia, apalagi hanya soal pakaian sederhana dan gaya hidup asketik. Tasawuf adalah jalan untuk mendekat kepada Allah melalui penyucian hati, pengendalian diri, latihan spiritual, dan perjuangan batin. Ia adalah ikhtiar panjang untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, melepaskan keterikatan yang berlebihan pada dunia, dan memusatkan orientasi hidup kepada Tuhan.