Di sinilah muncul gagasan penting Al-Ghazali tentang pengetahuan intuitif atau ma’rifat hadsiyah. Menurutnya, ada jenis pengetahuan yang tidak bisa dibuktikan sepenuhnya melalui logika tetapi tetap memberikan keyakinan yang mutlak. Pengetahuan ini bukan hasil taklid, bukan warisan turun-temurun, dan bukan pula kemenangan dalam debat. Ia adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati yang telah disucikan.
Pandangan ini menarik, terutama di zaman sekarang. Kita hidup dalam era yang sangat memuliakan rasionalitas, data, dan bukti empirik. Itu tentu penting. Tetapi Al-Ghazali mengingatkan bahwa akal bukan satu-satunya jalan menuju kebenaran. Akal tetap penting tetapi ia bukan sumber tertinggi. Akal baru bekerja secara jernih jika diterangi oleh cahaya Ilahi. Tanpa kejernihan batin, akal justru bisa menjadi alat pembenaran bagi hawa nafsu, ambisi, dan kesombongan.