Ketiga, tasawuf membantu manusia keluar dari jebakan validasi sosial. Media sosial sering kali menjadikan pengakuan publik sebagai ukuran nilai diri. Likes, views, dan komentar seolah menjadi standar keberhasilan. Tasawuf justru menggeser orientasi itu ke dalam, dari pencarian pengakuan manusia menuju pencarian keridaan Tuhan.
Keempat, tasawuf mengembalikan makna pada kehidupan yang serba cepat dan dangkal. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang tampil tetapi tentang mengalami. Tidak hanya tentang diketahui tetapi tentang dirasakan.
Pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan Al-Ghazali, perjalanan menuju Tuhan bukan sekadar soal mengetahui tetapi tentang menjadikan apa yang diketahui itu hidup dalam diri, membentuk akhlak, dan menjelma dalam sikap keseharian.
Di tengah dunia yang semakin ramai ini, hiruk pikuk di media sosial, yang paling kita perlukan bukan lebih banyak suara, melainkan kejernihan hati.***