Satu hal penting lain dari Al-Ghazali adalah etika dalam pengalaman spiritual. Ia menegaskan bahwa mukasyafah, yaitu tersingkapnya tabir antara manusia dan Tuhan, tidak selalu harus diumbar ke ruang publik. Pengalaman ruhani yang sangat dalam tidak otomatis harus dibagikan kepada semua orang. Mengapa? Karena tidak semua orang memiliki kesiapan untuk memahaminya. Jika pengalaman seperti itu dipublikasikan secara serampangan, ia justru bisa memicu salah paham, kontroversi, bahkan tuduhan penyimpangan.
Dalam konteks manusia modern, pesan ini terasa semakin relevan. Kita hidup di era media sosial yang mendorong setiap orang untuk berbagi, menampilkan, bahkan “mempertontonkan” hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pengalaman spiritual. Kegelisahan batin, proses hijrah, bahkan momen-momen religius yang seharusnya intim, sering kali berubah menjadi konten yang sengaja dikemas untuk mendapatkan atensi, validasi, dan respons publik.