Oleh Uten Sutendy
Thomas Jefferson, Presiden Amerika Serikat ketiga (1801–1809), dikaitkan dengan sebuah ungkapan: “If I could not go to heaven but with a party, I would not go there at all.”
Artinya kurang lebih: “Jika untuk masuk surga saya harus bergabung dengan suatu partai, lebih baik saya tidak masuk surga sama sekali.”
Ungkapan ini menyiratkan sebuah peringatan: jangan sampai loyalitas kepada kelompok politik mengalahkan hati nurani, kebenaran, dan nilai-nilai moral.
Sebab, ketika kepentingan politik menjadi panglima, apa pun bisa dikorbankan. Fakta dapat dimanipulasi, kawan seperjuangan dikhianati, lawan diperlakukan sebagai musuh abadi, bahkan ajaran agama yang sakral bisa ditafsirkan sesuka hati demi membenarkan ambisi kekuasaan.
Teman yang dahulu dipuja bisa tiba-tiba dicaci. Pemimpin yang pernah dibela mati-matian mendadak dianggap sebagai sumber segala kesalahan. Sesuatu yang kemarin diyakini benar, hari ini dicap sesat hanya karena kepentingan telah berubah arah.



