Dalam konteks ini, konsep risk society yang diperkenalkan oleh Ulrich Beck menjadi relevan. Beck menjelaskan bahwa masyarakat modern justru memproduksi risiko melalui aktivitasnya sendiri. Risiko bukan lagi sesuatu yang eksternal, melainkan hasil dari keputusan manusia. Sayangnya kesadaran ini belum sepenuhnya terinternaalisasi dalam komunikasi publik kita. Edukasi kebencanaan masih terbatas dan literasi risiko masyarakat masih rendah.
Kedua, terdapat persoalan mendasar dalam paradigma yang gunakan untuk memahami alam. Pendekatan positivistik cenderung melihat alam sebagai objek yang dapat diukur, dikendalikan dan dieksploitasi. Dalam bahasa komunikasi pembangunan, hal ini tercermin dalam istilah seperti “ pengelolaan sumber daya” atau “optimalisasi” menyimpan bias antroposentris, menempatkan manusia sebagai pusat dan alam sebagai objek.