Sayangnya dalam banyak kasus, kita masih menemukan fenomena greenwashing di mana narasi lingkungan digunakan sebagai alat pencitraan tanpa diikuti tindakan nyata. Hal ini justru merusak kepercayaan publik dan melemahkan upaya kolektif dalam menghadapi bencana.
Pada akhirnya, bencana bukan hanya persoalan alam tetapi juga persoalan komunikasi. Cara kita membingkai realitas, menyusun narasi dan menyampaikan pesan akan menentukan bagaimana kita merespons risiko. Jika komunikasi publik terus melegitimasi eksploitasi maka bencana akan menjadi siklus yang berulang. Sebaliknya, jika komunikasi diarahkan pada kesadaran kolektif, partisipasi dan keberlanjutan maka mitigasi bencana dapat dimulai bahkan sebelum bencana itu terjadi.
Dengan demikian membangun komunikasi yang berperspektif lingkungan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Karena pada akhirnya cara kita berbicara tentang alam akan menentukan bagaimana kita memperlakukannya dan bagaima alam merespons kita kembali.***