Sebaliknya pendekatan konstruktivistik mengajak kita melihat bahwa realitas, termasuk narasi manusia dengan alam, dibentuk melalui proses komunikasi. Apa yang dianggap sebagai “kemajuan” atau “pembangunan” tidaklah netral, melainkan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, politik dan budaya. Di sinilah pentingnya komunikasi sebagai arena perebutan makna. Pemikiran Peter L. Berger dan Thomas Luckman tentang kontruksi sosial realitas membantu menjelaskan bagaimana cara pandang terhadap alam dibentuk, dipertahankan dan dilegitimasi. Jika narasi dominan terus menempatkan alam sebagai komoditas maka ekploitasi akan terus dianggap wajar dan bencana menjadi konsekuensi logisnya.
Ketiga, penting untuk menguatkan narasi antargenerasi dalam komunikasi publik. Ungkapan bahwa “apa yang kita nikmati hari ini adalah pinjaman dari anak cucu” sering terdengar tetapi belum menjadi prinsip yang mengikat dalam praktik sosial maupun kebijakan. Narasi ini seharusnya tidak berhenti sebagai slogan moral, melainkan diterjemahkan menjadi strategi komunikasi yang sistematis.