Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Realitas di banyak organisasi menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kontribusi dan penghargaan. Karyawan bekerja keras tetapi merasa kurang diapresiasi. Loyalitas tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Di sisi lain, tuntutan pekerjaan terus meningkat tanpa diiringi pengakuan yang layak.
Situasi ini melahirkan sikap pragmatis: bekerja secukupnya karena usaha tambahan dianggap tidak memberikan nilai tambah yang signifikan. Dengan kata lain, quiet quitting bukan semata persoalan individu, melainkan refleksi dari sistem kerja yang belum sepenuhnya adil dan
manusiawi. Bahkan, berdasarkan laporan Gallup (2023), hanya sebagian kecil karyawan di dunia yang benar-benar terlibat secara emosional dalam pekerjaannya. Sisanya berada dalam kondisi disengagement yang berpotensi menurunkan produktivitas organisasi.