Oleh Sunarto (Mahasiswa Program Doktor Manajemen Unisba Dosen FEB Untag Samarinda)
PERNAHKAH seseorang datang ke tempat kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai standar, lalu pulang tanpa beban—namun di dalam dirinya terasa hampa? Secara fisik ia hadir tetapi secara psikologis seolah “mengundurkan diri” sejak lama. Fenomena ini kini dikenal luas dengan istilah quiet quitting, sebuah gejala baru dalam dunia kerja modern yang patut dicermati secara serius.
Quiet quitting bukanlah bentuk pengunduran diri secara formal, juga bukan kemalasan ekstrem. Fenomena ini lebih subtil: karyawan tetap bekerja tetapi hanya sebatas memenuhi kewajiban minimum. Tidak ada dorongan untuk berkontribusi lebih, tidak ada keterikatan emosional terhadap pekerjaan, dan tidak ada semangat untuk berkembang. Kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih dalam, yakni hilangnya makna dalam bekerja. Ketika pekerjaan hanya dipandang sebagai rutinitas maka keterlibatan batin perlahan menghilang.