Pertemuan ini tidak sekadar membicarakan ketokohan seorang putra Turatea. Lebih dari itu, diskusi mengingatkan bahwa penghormatan kepada tokoh sejarah harus dibangun melalui dua hal yang saling menguatkan: penghargaan terhadap nilai perjuangan dan ketelitian dalam membuktikan fakta sejarah.
Dalam paparannya, Bachtiar Adnan Kusuma menghubungkan kekuatan literasi dengan perjalanan perjuangan para tokoh besar bangsa, termasuk Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Menurutnya, kemampuan membaca, menulis, mengolah gagasan, dan membangun argumentasi merupakan modal penting dalam membentuk pemikiran serta keberanian melawan ketidakadilan.
Ia mengangkat pengalaman Soekarno ketika menjalani masa penahanan di Sukamiskin dan menulis nota pembelaan yang dikenal sebagai Indonesia Menggugat.
Bagi Bachtiar, kisah tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung melalui tindakan politik, tetapi juga melalui kekuatan gagasan yang dibangun dari bacaan dan tulisan.



