Oleh Satya Indra Karsa (Dosen Stikom Bandung, Pengamat Komunikasi Bencana)
MITIGASI bencana selama ini sering dipahami terutama sebagai serangkaian tindakan teknis untuk mengurangi dampak bahaya alam terhadap manusia dan infrastruktur. Pendekatan tersebut penting tetapi belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar bahwa risiko bencana seringkali merupakan hasil dari proses pembangunan yang tidak memperhatikan keterkaitan antara aspek sosial, ekonomi, budaya, teknologi dan ekologis. Pembangunan yang berlangsung pada wilayah rentan, eksploitasi sumberdaya alam, degradasi ekosistem, ketimpangan sosial, serta tata ruang yang tidak berorientasi pada risiko dapat menciptakan dan memperbesar risiko bencana.
Dalam konteks tersebut, pemikiran Fritjof Capra mengenai systems thinking dan ecological worldview menawarkan perspekttif yang relevan. Capra memandang kehidupan sebagai suatu jaringan hubungan yang saling bergantung. Persoalan ekologis dan sosial tidak dapat dipahami secara terpisah karena perubahan pada satu bagian sistem dapat menimbulkan konsekuensi pada bagian lainnya. Pemikiran ini dapat digunakan untuk memperluas paradigma mitigasi bencana dari pendekatan reaktif dan sektoral menuju pendekatan sistemik, ekologis, partisipatif dan berorientasi pada keberlanjutan.


