Pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai pembangunan yang mampu menjaga keberlangsungan web of life, sekaligus mengurangi penciptaan risiko baru dan memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi perubahan dan ketidakpastian.
Bencana pada dasarnya bukan semata-mata peristiwa alam. Gempa bumi, banjir, longsor, kekeringan, tsunami dan berbagai ancaman lainnya memang merupakan fenomena fisik tetapi besarnya dampak yang ditimbulkan sangat dipengaruhi oleh tingkat keterpaparan, kerentanan, kapasitas masyarakat serta kondisi lingkungan.
Dengan demikian, mitigasi bencana tidak seharusnya ditempatkan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri setelah pembangunan selesai. Risiko harus dipertimbangkan sejak tahap perencanaan pembangunan.
Persoalannya pembangunan modern seringkali masih menggunakan pola berpikir yang terfragmentasi. Pertumbuhan ekonomi dibahas dalam ruang yang berbeda dengan lingkungan; pembangunan infrastruktur dipisahkan dari daya dukung ekosistem; kemiskinan dibahas sebagai persoalan sosial tanpa selalu dikaitkan dengan kerentanan bencana dan pengurangan risiko bencana terkadang diposisikan sebagai urusan lembaga tertentu saja.


