Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa bencana merupakan fenomena sistemik.
Capra sendiri menjelaskan systems thinking sebagai cara berpikir dalam kerangka hubungan, pola, dan konteks.
Jika pemikiran Capra diterapkan pada mitigasi bencana maka risiko tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang hanya “datang dari luar” masyarakat. Risiko merupakan hasil interaksi antara manusia, lingkungan, teknologi, ekonomi, kebijakan dan proses alam.
Sebagai contoh, banjir di wilayah perkotaan tidak hanya berkaitan dengan curah hujan. Banjir dapat diperbesar oleh tutupan lahan, berkurangnya daerah resapan, penyempitan sungai, pembangunan pada kawasan rawan, sistem drainase yang tidak memadai, pengelolaan sampah yang buruk dan bagaimana akses terhadap infrastruktur. Dengan pendekatan sistemik semua unsur tersebut dipandang sebagai bagian dari satu jaringan.


