Oleh Satya Indra Karsa, Drs., M.Ikom (dosen Stikom Bandung, pemerhati komunikasi bencana)
BENCANA kerap dipahami sebagai peristiwa alam yang datang tiba-tiba dan tak terhindarkan. Narasi ini berulang dalam pemberitaan media maupun percakapan sehari-hari: gempa, banjir, longsor, seolah hadir sebagai “takdir” yang berada di luar kendali manusia. Namun, jika dilihat dari perspektif komunikasi, bencana tidak sesederhana itu. Ia bukan sekadar fenomena alam, melainkan juga hasil dari cara manusia membangun makna, menyusun narasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Dalam kerangka ini, bencana menjadi cermin dari kegagalan komunikasi pembangunan, maupun komunikasi lingkungan.
Pertama, penting untuk menegaskan bahwa bencana tidak pernah benar-benar “tiba-tiba”. Banyak peristiwa yang disebut sebagai bencana alam sejatinya merupakan akumulasi dari proses panjang: deforestasi, alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya, serta lemahnya mitigasi. Namun komunikasi publik seringkali menyederhanakan persoalan ini. Media cenderung membingkai bencana sebagai kejadian dramatis yang bersifat insidental, bukan sebagai hasil dari kegagalan struktural.