Oleh: Herman Lilo (Pengamat Politik dan Penggiat Literasi Media)
Di tengah bangsa yang terus berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi, buku ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan, yakni pembangunan manusia.
ADA– sesuatu yang menarik ketika membaca buku Literasi Jalan Hidupku: Catatan dari Lorong Sunyi, Iqra, Pena dan Maros Surga Literasi, karya Bachtiar Adnan Kusuma (BAK).
Buku setebal 312 halaman ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang membaca, menulis, perpustakaan, dan gerakan literasi. Ia adalah rekaman perjalanan seorang penulis, pejuang kata-kata yang memilih menjadikan literasi sebagai jalan hidup.
Di tengah bangsa yang terus berbicara tentang pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi, buku ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sering terlupakan, yakni pembangunan manusia.



