Bukankah kemajuan sebuah bangsa tidak cukup diukur dari panjang jalan raya, megahnya gedung pemerintahan, atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ada ukuran lain yang jauh lebih mendasar, yakni seberapa jauh masyarakatnya melek literasi, mampu membaca, berpikir, memahami persoalan, dan melahirkan gagasan.
World Bank mendefinisikan literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis dengan pemahaman. Dalam pengertian yang lebih luas, literasi tidak berhenti pada pengenalan huruf, tetapi mencakup kemampuan memahami teks sederhana, berkomunikasi melalui tulisan, serta mengakses informasi secara mandiri. Dengan demikian, literasi bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan fondasi bagi manusia untuk mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Dari perspektif inilah kita memahami mengapa gerakan literasi menjadi begitu penting bagi Indonesia yang masih menempati rangking yang rendah di dunia. Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak orang yang bisa membaca, melainkan apakah kemampuan membaca itu telah tumbuh menjadi kebiasaan berpikir, budaya belajar, dan kekuatan untuk mengubah kehidupan.
Literasi Menjadi Arah Pembangunan



