Perjalanan BAK adalah jalan pedang yang berliku. Ia harus bertahan di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjadikan buku sebagai kebutuhan hidup. Ketika kebiasaan membaca berhadapan dengan derasnya arus hiburan audiovisual, ketika halaman buku harus bersaing dengan layar gawai, dan ketika perhatian manusia semakin mudah direbut oleh algoritma media sosial, BAK tetap memilih jalan yang tidak selalu ramai peminat itu.
Ia seperti seorang pejuang yang hanya menggenggam bambu runcing ketika berhadapan dengan meriam teknologi modern. Senjatanya sederhana: buku, pena, gagasan, dan ketekunan. Namun, ia tidak mundur.
Sementara dunia bergerak semakin cepat, BAK justru terus mengajak orang berhenti sejenak dan memanfaatkan waktu untuk membaca, merenung, dan menulis. Ia mendatangi sekolah, desa, masjid, kampus, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan melakukan wakaf buku. Ia mengajak guru menulis buku, pustakawan mengembangkan perpustakaan, orang tua membangun budaya baca di rumah, serta generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan.



