Di sinilah kemenangan BAK menemukan maknanya. Bukan kemenangan atas seseorang, melainkan kemenangan atas keputusasaan, keterbatasan akses buku, dan anggapan bahwa budaya membaca sudah kehilangan tempat di tengah kemajuan teknologi.
Indonesia Berliterasi, Pekerjaan yang Belum Selesai
Buku ini juga menyampaikan kegelisahan tentang masa depan literasi Indonesia. Kita hidup dalam zaman ketika informasi berlimpah, tetapi kedalaman pemahaman justru sering kali tertinggal. Masyarakat dapat mengakses ribuan informasi melalui telepon genggam, tetapi belum tentu mampu membedakan pengetahuan, opini, manipulasi, dan kebohongan. Apalagi keterlibatan artificial intelligence yang sarat dengan produk deepfake dan konten sintetis.
Karena itu, literasi hari ini tidak cukup hanya mengajarkan orang membaca buku.
Masyarakat juga harus memiliki kemampuan membaca realitas, memahami informasi digital, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pengetahuan.
Tentu, perjalanan itu belum selesai. Penghargaan bukan garis akhir. Angka kegemaran membaca bukan alasan untuk berpuas diri. Tantangan berikutnya adalah memastikan perpustakaan tetap hidup, buku bermutu semakin mudah dijangkau, anak-anak tumbuh bersama buku, dan tradisi menulis menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.



