Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah bergesernya esensi study tour menjadi ajang rekreasi mewah, sering kali tanpa arah edukatif yang jelas. Kegiatan seperti mengunjungi mal, tempat wisata luar kota, atau menginap di hotel bintang empat menjadi lebih dominan daripada belajar langsung dari pengalaman.
Dampaknya, banyak siswa yang tidak merasakan nilai pembelajaran. Bahkan, kegiatan ini bisa memperlebar jurang ekonomi antarsiswa karena tidak semua mampu ikut serta. Orang tua merasa terbebani. Tak sedikit sekolah yang akhirnya menjadikan study tour sebagai kegiatan tahunan “wajib” yang kehilangan makna.
Namun, solusinya bukanlah melarang secara menyeluruh. Solusinya adalah menata. Edukasi kepada kepala sekolah dan guru tentang bagaimana merancang study tour yang bermakna sangat diperlukan. Pemerintah Provinsi bisa membuat panduan baku: destinasi yang edukatif, biaya yang wajar, pembelajaran yang terukur, serta alternatif kegiatan bagi siswa yang tidak bisa ikut.