Dulu, study tour adalah kegiatan sederhana namun penuh makna. Anak-anak diajak ke museum, pabrik tahu, peternakan, atau pusat seni. Di sanalah mereka melihat langsung bagaimana proses terjadi. Pembelajaran terasa nyata.
Sekarang, banyak kegiatan serupa berubah menjadi ajang foto-foto dan konsumsi. Dengan dalih “menyenangkan anak”, kadang substansi pembelajaran dilupakan.
Namun, nanti, kita bisa membayangkan kegiatan study tour sebagai pengalaman yang kembali utuh: anak-anak mengunjungi pusat teknologi lokal, berdialog dengan petani organik, atau ikut praktik membuat kerajinan khas daerah. Di era kurikulum merdeka, inilah saatnya menjadikan study tour sebagai bentuk konkret dari pembelajaran berbasis proyek dan konteks.
Faktanya, ribuan sekolah di Jawa Barat menyelenggarakan study tour tiap tahun. Nilainya bisa mencapai miliaran rupiah. Namun, seperti pisau, study tour bisa menjadi alat yang bermanfaat atau membahayakan, bergantung siapa yang menggunakannya dan bagaimana caranya.