Kelima, menjadi sumber inspirasi karier. Melihat langsung dunia kerja bisa menyalakan cita-cita dan orientasi masa depan. Contoh, kunjungan ke LIPI membuat siswa tertarik menjadi peneliti.
Jika dikelola secara baik dan terukur, study tour bukan sekadar “jalan-jalan” tetapi laboratorium kehidupan yang mendidik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perlu pendampingan dan perencanaan matang agar manfaat ini terasa nyata, bukan beban biaya bagi orang tua.
Jadi, apakah Gubernur Dedi Mulyadi anti study tour? Mungkin sebagian orang beranggapan begitu. Tetapi mari kita melihat lebih jernih. Ia bukan anti terhadap pembelajaran luar kelas. Ia hanya ingin menertibkan agar pendidikan tidak dibajak oleh komersialisasi dan kemewahan yang menyesatkan.
Namun, larangan total bukanlah jalan terbaik. Menata lebih baik daripada meniadakan. Seperti petani yang menemukan rumput liar di sawahnya, solusinya bukan menebang semua tanaman tetapi mencabut gulma agar padi tumbuh subur.